23.04.2009 09:20:11 WIB
Oleh: M. Jauharul Fuad
Bismillahirrahmanirrahim.
Seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 17 April 2009, kami menjumpai Anda di sebuah pesantren di Cisarua, dalam acara Pembukaan Pelatihan Guru Tahfid Quran, yang juga dihadiri Dubes Saudi Arabia. Tetapi rasanya kurang tepat kalau waktu itu kami menyampaikan pendapat ini.
22.04.2009 12:40:38 WIB
BANDUNG: Sebanyak 1.500 pohon dari berbagai jenis secara serentak ditanam di 13 stasiun di wilayah Daop 2 Bandung, mulai dari Stasiun Cibungur hingga Stasiun Banjar.
22.04.2009 08:40:37 WIB
Oleh: M. Jauharul Fuad
Pemilu yang baru saja kita jalani telah menguras begitu banyak energi kita. Kalau ada 1,5 juta caleg di seluruh Indoneisa, dan masing-masing caleg mengajak berpikir atau bekerja sebanyak 50 orang, maka 75 juta orang telah menguras energinya untuk pemilu. Jumlah itu lebih dari separuh jumlah penduduk usia produktif. Artinya, lebih dari separuh energi kita terkuras untuk pemilu.
16.04.2009 00:14:02 WIB
Oleh: M. Jauharul Fuad
Begitu cepat semua berubah. Sekarang kita tidak lagi melihat pers perjuangan. Jaman dulu kita punya Pedoman Rakyat atau koran-koran lain yang kental semangat perjuangannya. Bahkan hampir semua koran diterbitkan karena alasan ideologis: semangat perjuangan. Tetapi sekarang ini, setiap muncul media atau koran baru pasti dilatarbelakangi semangat bisnis, semangat korporasi, semangat kapitalistik, dan sejenisnya. Maka sekarang kita tidak lagi punya pers yang bisa menjadi pilar demokrasi dan mampu menjadi agen pendidikan masyarakat.
03.04.2009 16:26:46 WIB
Oleh: M. Jauharul Fuad
MEMANG belum terlalu jadul. Tapi sejak tahun 1983, saya telah tinggal di Bandung. Di sebuah rumah milik Ir. Sardjono, di Jl. Dago (Ir. H. Juanda) 126 A. Tak terasa, lebih dari 25 tahun berlalu sudah.
Masih kuat ingatan saya, ketika pada pertengahan tahun 80-an seluruh warga pemukiman sekitar kami menolak pembukaan Kantor Bank Central Asia (BCA) di Dago, tepatnya beberapa kavling di atas Hotel Patra Jasa. Alasannya, karena Jalan Dago adalah wilayah pemukiman, bukan wilayah bisnis. Saat itu, sepanjang Jalan Dago, khususnya dari Cikapayang sampai Pasar Simpang, memang hanya untuk rumah tinggal—kecuali RS Borromeus, Hotel Patra Jasa, dan Columbia Yoghurt.
16.01.2009 07:47:22 WIB
Oleh Farid Gaban
Menilai kinerja perusahaan publik secara langsung dengan kriteria efisiensi swasta adalah kekeliruan terbesar.
Kita akan masuk dalam perangkap berpikir neoliberalisme jika kita tidak berusaha membuat jelas batasan swasta dengan publik (wilayah ekonomi yang menentukan hajat hidup orang banyak).
Mekanisme pasar bebas, yang berorientasi pada maksimalisasi profit, tidak akan dengan sendirinya melayani publik.